Caption : 5 Unit Ponsel yang Masih Tertahan di Depan Pos Polairud Polres Bangka Barat, (ft/ist).
Mentok, Dalam beberapa hari ini perairan laut keranggan, tembelok di Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat mulai dipadati oleh kegiatan ratusan ponton selam sampai user robin.
Terpantau, Minggu (20/4/26) ratusan unit ponton beserta user robin tanpa henti terus bekerja siang dan malam hari, tanpa peduli himbauan serta penindakan yang telah dilaksanakan.
Bukan hanya hanya itu saja, menurut keterangan warga sekitar kegiatan ilegal ini juga sudah tidak memperdulikan kearifan lokal seperti pada awal kegiatan.
“Penambang sekarang sudah tidak memperdulikan cantingan kampung, yang seharusnya di potong 20persen untuk warga,” sebutnya.
“Bagi penambang hak masyarakat itu telah dipenuhi mereka dengan cara memberikan sebagian hasilnya kepada setiap masyarakat yang hadir pada saat telah usai bekerja,” tambah sumber.
Menurutnya, situasi ini jelas sangat tidak memihak kepada masyarakat luas bagi masyarakat sekitar, karena pada akhirnya masyarakat tidak mendapatkan hak mereka.
“Justru penambang malah diuntungkan, dengan cara mereka memberi kepada setiap warga yang hadir di ponton, kewajiban atas 20% itu hilang alias dipenuhi oleh mereka,” ucapnya.
“Bayangkan, jika 20% untuk warga kita ambil malah lebih banyak dari cantingan yang tidak jelas tadi. Contoh penambang dapat 60kg diambil 20% maka terdapat 12kg hak warga,” lanjutnya.
Dirinya mengatakan apabila setiap warga yang hadir di satu ponton sebanyak 10 orang dengan asumsi satu orang 1/2kg maka penambang jelas sangat diuntungkan.
Situasi ini jelas sangat merugikan masyarakat sekitar, dimana pertanyaan-pertanyaan bernada harapan selalu dilontarkan kepada setiap perwakilan mereka yang hadir dalam kegiatan.
“Hak kami selaku warga kapankah akan kami dapatkan seperti tahun-tahun sebelumnya, tentunya kami berharap dapat merasakan hasil dari laut kami sendiri bukan malah penambang,” sebut warga lainnya.
Senada, menurut keterangan AR, Ketua RW 02, Kelurahan Keranggan turut merasakan kegelisahan warganya, baginya ratusan ponton itu tidak memberikan manfaat apapun bagi warga di wilayahnya.
Masih menurut AR, dirinya bersama perangkat lainnya serta sebagian masyarakat berencana akan segera menghentikan seluruh kegiatan di perairan mereka tanpa terkecuali.
“Jelas tidak menguntungkan bagi masyarakat, banyak yang mempertanyakan hak mereka jadi lebih baik ditutup untuk apa kalo hanya menguntungkan penambang,” jelas AR.
“Kami berharap Kapolres turut mendukung tindakan yang akan kami lakukan, serta sebagian masyarakat yang masih peduli terhadap keberlangsungan dari manfaat hasil laut kami,” tutupnya.
Sementara, sejumlah nelayan dari perairan tersebut mengungkapkan keresahannya dalam menghadapi musim tangkap ikan bawal yang telah tiba masanya.
“Siapa yang menjamin apabila pukat kami tebarkan di laut ini akan bertahan, sebab seperti tahun sebelumnya banyak yang hilang dihantam para penambang,” jelasnya.
“Apakah jaminannya pukat kami selamat, dan sudah pasti mengganggu kelompok ikan bawal nantinya, kami minta Kapolres segera bertindak,” kata sejumlah nelayan yang kompak menolak.







